Memperingati Hari Bumi

Memperingati Hari Bumi

DALAM memperingati Hari Bumi, pada mahasiswa dari Unsil Tasikmalaya, UIN Jakarta, STKIP Garut, UPI Bandung, Kopling Tasikmalaya, Unpad, dan Kwarcab Pramuka Kota Tasikmalaya mengadakan orasi dan teatrikal, serta membersihkan sampah di lapang Dadaha Tasikmalaya, Sabtu (25/4). Nampak para mahasiswa saat berdialog dengan Wakil Walikota Tasikmalaya sambil lesehan di lapang Dadaha Tasikmalaya.* CECEP SA/”PR”

Sumber : Pikiran Rakyat

BUMIKU

BUMIKU

Kini kau semakin renta, semakin tua dan lemah, seakan kau ingin membisikkan pada manusia. Betapa menderitanya dirimu oleh manusia yang serakah merampok kekayaanmu, manusia lebih kejam dari pada itu. Manusia mengundulimu, menusukimu, zalim terhadapmu Sungguh manusia tak tahu malu. Hanya karena satu rupiah, hanya karena kesenangan sesaat, padahal manusia hanyalah makhluk kecil yang tinggal di atasmu, makhluk kecil yang durhaka terhadap amanah yang telah diberikan oleh Allah Maha Pencipta. Sesekali kau tegur kami dengan gemetarmu, airmatamu, dan suara pilu tangismu. Namun itu tak membuat kami tersentak, tersadar menggubrisnya. “One Love For Earth”

Sumber :

BEM FKIP Unsil untuk hari bumi

Mengantuk Di Malam Hari


Mengantuk Di Malam Hari

mengapa saat malam kita mengantuk? Atau mengapa bila masyarakat pedesaan yang belum ada listrik cenderung tidur lebih cepat? Jawabannya adalah karena adanya hormon melatonin. SCN akan memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan hormon melatonin ini saat hari sudah gelap. Selanjutnya, hormon melatonin akan memerintahkan tubuh untuk beristirahat. Namun dengan kehadiran lampu listrik yang membuat suasana malam hari menjadi terang menghambat dikeluarkannya hormon melatonin, sehingga saat ini jam tidur manusia lebih larut malam daripada sebelumnya.


Tubuh kita mudah beradaptasi. Misalnya, untuk pekerja yang bekerja saat malam hari, SCN akan beradaptasi dalam mengeluarkan hormon melatonin sehingga mereka akan tetap terjaga walaupun hari sudah gelap. Bila malam semakin larut, kita akan lebih merasakan kantuk, ini disebabkan hormon melatonin yang dihasilkan semakin meningkat dan juga turunnya suhu tubuh dan tekanan darah dalam tubuh.

Sumber :
Info-Sehat.com

SURAT 2070

SURAT DARI TAHUN 2070

Dibaca Ke Pinggir

Lalu Ke Bawah,,,,,

contoh :

gambar 1      gambar 2

gambar 3      gambar 4

download format power point : klick Download

MASSA TULANG




Massa Tulang
Massa Tulang

Pengukuran massa tulang tunggal pada bagian-bagian yang biasa diukur (lengan bawah, tumit, jari, pinggul, atau tulang punggung) memperkirakan resiko keseluruhan patah tulang pada wanita. Pengukuran massa tulang juga memperkirakan resiko tipe patah tulang osteoporosis tertentu. Temasuk yang terjadi pada pergelangan tangan, lengan atas, pinggul, dan bagian tubuh lainnya.

Bagian tulang yang diukur dapat menjadi faktor penting, misalnya massa tulang yang diukur pada pinggul memberikan hasil perkiraan yang lebih untuk patah tulang pinggul dibandingkan dengan massa tulang yang diukur pada bagian tubuh lainnya. Massa tulang dan patah tulang berhubungan erat. Contohnya jika jika massa tulang pinggul wanita 20% di bawah normal untuk usianya, ia memiliki resiko 7 kali lebih besar untuk mengalami patah tulang pinggul daripada wanita yang memiliki massa tulang pinggul 20% di atas normal untuk usianya.

Semakin rendah densitas mineral tulang, semakin tinggi resikonya mengalami patah tulang. Massa tulang pada wanita yang lebih tua merefleksikan kombinasi massa tulang puncak wanita tersebut pada usia kira-kira 30 tahun, dan tingkat tulang yang berkurang setelahnya. Tingkat massa tulang yang berkurang pada masa menopause dapat sangat bervariasi, tidak hanya pada setiap orang namun juga pada individu yang sama pada tahap hidup yang berbeda. Untuk itu, tidak ada kata terlambat untuk mencegah patah tulang dengan mencegah berkurangnya masa tulang.

Sumber :
Info-Sehat.com

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

Kata Indonesia berasal dari gabungan kata Yunani Indus ‘India’ dan nesos ‘pulau atau kepulauan’. Jadi secara etimologis berarti kepulauan yang telah dipengaruhi oleh kebudayaan India, atau hanya kepulauan India. Pencipta kata tersebut ialah George Samuel Windsor Earl, sarjana Inggris yang menulis dan memakai kata itu dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, Vol. iv- him 17, bulan Februari 1850. Ia menggunakan kata Indonesians dalam majalah itu Sedangkan, orang yang mempopulerkan kola lndnnesin adalah ahli etmoologi Jerman, Adolf Bastian, yang memakainya dalam buku-buku yang ditulisnya sejak tahun 1884. Buku-buku ini diberi judul Indwonesien order die Inseln des Malayischen Archipel.


A. SEJARAH BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam Kerapatan Pemuda dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda. Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional.

Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36). Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara. Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna.

Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara. Informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain, menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing:63,159), Kou-luen (I-Tsing:183), K’ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Alisjahbana, 1971:1089). Kun’lun (Parnikel, 1977:91), K’un-lun (Prentice, 1078:19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Yang dimaksud Koenluen adalah bahasa perhubungan (lingua franca) di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu. Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.

Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur. Bahasa Melayu dipakai di mana-mana di wilayah Nusantara serta makin berkembang dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah.

Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antar perkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).

Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda, yaitu pada 28 Oktober 1928. Pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, penggunaan Bahasa Indonesia telah digunakan sebagai bahasa negara Indonesia selepas kemerdekaan. Soekarno tidak memilih Bahasa Jawa, yaitu bahasanya sendiri yang sebenarnya juga merupakan bahasa mayoritas pada saat itu. Beliau memilih Bahasa Indonesia (bahasa melayu yang diedit) yang didasarkan dari Bahasa Melayu yang digunakan di Riau.

Bahasa Melayu Riau dijadikan sebagai bahasa persatuan Republik Indonesia dengan beberapa pertimbangan: Apabila Bahasa Jawa digunakan, suku suku/puak puak lain di Republik Indonesia akan merasa dijajah oleh Jawa, yang merupakan suku mayoritas Republik Indonesia. Bahasa Jawa jauh lebih sukar dipelajari dibandingkan bahasa melayu. Ada bahasa halus, biasa, dan kasar, yang mana dipergunakan untuk orang yang berbeda dari segi usia, derajat, ataupun pangkat. Bila kurang memahami budaya Jawa, dapat menimbulkan kesan negatif yang lebih besar.
Bahasa Melayu Riau yang dipilih, dan bukan misalnya Bahasa Melayu Pontianak, atau Banjarmasin, atau Samarinda, ataupun Kutai, dengan pertimbangan pertama suku / puak Melayu berasal dari Riau, Sultan Malaka yang terakhirpun lari ke Riau setelah Malaka direbut Portugis. Kedua, sebagai lingua franca, Bahasa Melayu Riau yang paling sedikit terkena pengaruh misalnya dari bahasa Cina Hokkien, Tio Ciu, Ke, ataupun dari bahasa lainnya.
Penggunaan bahasa melayu tidak hanya terbatas di Republik Indonesia. Di tahun 1945, pengguna bahasa melayu selain Republik Indonesia masih dijajah Inggris. Malaysia, Brunei, dan Singapura masih dijajah Inggris. Pada saat itu, dengan menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan, diharapkan di negara negara kawasan seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura bisa ditumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Bahasa Indonesia yang sudah dipilih ini kemudian disempurnakan lagi dengan tatabahasa, dan kamus tata bahasa juga diciptakan. Hal ini dilakukan pada zaman Penjajahan Jepang.

Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.


B. BEBERAPA MASA DAN TAHUN BERSEJARAH

Sehubungan dengan perkembangan bahasa Indonesia, ada beberapa masa dan tahun bersejarah yang penting, yakni :

  1. Masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7. Pada waktu itu Bahasa Indonesia yang masih bernama bahasa Melayu telah digunakan sebagai lingua franca atau bahasa penghubung, bahasa pengantar. Bukti, historis dari masa ini antara lain prasasti atau batu bertulis yang ditemukan di Kedutaan Bukit, Kota Kapur, Talang Tuwo. Karang Brahi yang berkerangka tahun 680 Masehi. Selain ini dapat disebutkan bahwa data bahasa Melayu paling tua justru dalam prasasti yang ditemukan di Sojomerta dekat Pekalongan, Jawa Tengah.
  2. Masa Kerajaan Malaka, sekitar abad ke-15. Pada masa ini peran bahasa Melayu sebagai alat komunikasi semakin penting. Sejarah Melayu karya Tun Muhammad Sri Lanang adalah peninggalan karya sastra tertua yang ditulis pada masa ini. Sekitar tahun 1521, Antonio Pigafetta menyusun daftar kata Italy-Melayu yang pertama. Daftar itu dibuat di Tidore dan berisi kata-kata yang dijumpai di sana.
  3. Masa Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, sekitar abad ke-19. Fungsi bahasa Melayu sebagai sarana pengungkap nilai-nilai estetik kian jelas. Ini dapat dilihat dari karya-karya Abdullah seperti Hikayat Abdullah, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah, Syair tentang Singapura Dimakan Api, dan Pancatanderan Tokoh lain yang Perlu dicatat di sini ialah Raja Ali Haji yang terkenal sebagai pengarang Gurindam Dua Belas, Silsilah Melayu Bugis, dan Bustanul Katibin.
  4. Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan yang pertama kali oleh Prof. Ch. van Ophuysen dibantu Engku Nawawi dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan mereka yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuysen ditulis dalam buku yang berjudul Kitab Logat Melajoe.
  5. Tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan Commissie de lndlandsche School en Volkslectuur ( Komisi Bacaan Sekolah Bumi Putra dan Rakyat) Lembaga ini mempunyai andil besar dalam menyebarkan Serta mengembangkan bahasa Melayu melalui bahan-bahan bacaan yang diterbitkan untuk umum.
  6. Tahun 1928 tepatnya tanggal 28 Oktober, dalam Sumpah Pemuda, bahasa Melayu diwisuda menjadi bahasa Nasional bangsa Indonesia sekaligus namanya diganti menjadi bahasa Indonesia. Alasan dipilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional ini didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa tersebut (1) telah dimengerti dan dipergunakan selama berabad-abad sebagai Lingua franca hampir di seluruh daerah kawasan Nusantara, (2) strukturnya sederhana sehingga mudah dipelajari dan mudah menerima pengaruh luar untuk memperkaya serta menyempurnakan fungsinya. (3) bersifat demokratis sehingga menghindarkan kemungkinan timbulnya perasaan sentimen dan perpecahan, dan (4) adanya semangat kebangsaan yang lebih besar dari penutur bahasa Jawa dan Sunda.
    “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa jang sama, bahasa Indonesia” demikian rumusan Sumpah Pemuda yang terakhir dan yang benar.
  7. Tahun 1933 terbit majalah Poedjangga Baroe yang pertama kali. Pelopor pendiri majalah ini ialah Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, yang ketiganya ingin dan berusaha memajukan bahasa Indonesia dalam segala bidang.
  8. Tahun 1938, dalam rangka peringatan 10 tahun Sumpah Pemuda diadakan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, yang dihadiri ahli-ahli bahasa dan para budayawan seperti Ki Hadjar Dewantara, Prof Dr Purbatjaraka dan Prof Dr. Hussein Djajadiningrat. Dalam kongres ditetapkan keputusan untuk mendiktekan Institut Bahasa Indonesia, mengganti ejaan Van Ophuysen, serta menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam Badan Perwakilan.
  9. Masa pendudukan Jepang (1942-1945) Pada masa ini peran bahasa Indonesia semakin penting karena pemerintah Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda yang dianggapnya sebagai bahasa musuh Penguasa Jepang terpaksa mengangkat bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam administrasi pemerintahan dan bahasa pengantar di lembaga pendidikan, karena bahasa Jepang sendiri belum banyak dimengerti oleh bangsa Indonesia. Untuk mengatasi berbagai kesulitan, akhirnya Kantor Pengajaran Balatentara Jepang mendirikan Komisi Bahasa Indonesia.
  10. Tahun 1945, tepatnya 18 Agustus bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa negara, sesuai dengan bunyi UUD 45, Bab XV, Pasal 36: Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.
  11. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan pemakaian Ejaan Republik sebagai penyempurnaan ejaan sebelumnya Ejaan ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ejaan Soewandi.
  12. Balai Bahasa yang dibentuk Wont 1948, yang kemudian namanya diubah menjadi Lembaga Bahasa Nasional (LBN) tahun 1968, dan dirubah lagi menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Pada tahun 1972 adalah lembaga yang didirikan dalam rangka usaha pemantapan perencanaan bahasa.
  13. Atas prakarsa Menteri PP dam K, Mr. Moh. Yamin, Kongres Bahasa Indonesia Kedua diadakan di Medan tanggal 28 Oktober s.d. 1 November 1954. Dalam kongres ini disepakati suatu rumusan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia berbeda dari bahasa Melayu karena bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang sudah disesuaikan pertumbuhannya dengan masyarakat Indonesia sekarang .
  14. Tahun 1959 ditetapkan rumusan Ejaan Malindo, sebagai hasil usaha menyamakan ejaan bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu yang digunakan Persekutuan Tanah Melayu. Akan tetapi, karena pertentangan politik antara Indonesia dan Malaysia, ejaan tersebut menjadi tidak pernah diresmikan pemakaiannya.
  15. Tahun 1972, pada tanggal 17 Agustus, diresmikan pemakaian Ejaan Yang Disempurnakan yang disingkat EYD. Ejaan yang pada dasarnya adalah hasil penyempurnaan dari Ejaan Bahasa Indonesia yang dirancang oleh panitia yang diketuai oleh A. M. Moeliono juga digunakan di Malaysia dan berlaku hingga sekarang.
  16. Tahun 1978, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-50. bulan November di Jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III. Kongres ini berhasil mengambil keputusan tentang pokok-pokok pikiran mengenai masalah pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Di antarannya ialah penetapan bulan September sebagai bulan bahasa.
  17. Tanggal 21 – 26 November 1983, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, berlangsung Kongres Bahasa Indonesia IV. Kongres yang dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr. Negro Notosusanto, berhasil merumuskan usaha-usaha atau tindak lanjut untuk memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan negara.
  18. Dengan tujuan yang sama, di Jakarta 1988, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V.

Tahun 1993, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Kongres Bahasa Indonesia berikutnya akan diselenggarakan setiap lima tahun sekali.

sumber : Berbagai Sumber dari BLOG

METAMORPHOSIS

Metamorphosis is a biological process by which an animal physically develops after birth or hatching, involving a conspicuous and relatively abrupt change in the animal’s form or structure through cell growth and differentiation. Some insects, amphibians, mollusks, crustaceans, Cnidarians, echinoderms and tunicates undergo metamorphosis, which is usually (but not always) accompanied by a change of habitat or behaviour. Metamorphosis refers to the way that insects develop, grow and change form. Metamorphosis actually infers “change.” The term is of Latin and Greek origins: meta means “change” and morphe means “form.” Metamorphosis describes the series of changes through which an insect passes in its growth from the egg stage (some insects, such as aphids, may produce eggs and/or give birth to live young) through the immature stages (ex., nymph, larva or pupa) to the adult stage.

Insect metamorphosis

Metamorphosis usually proceeds in distinct stages, starting with larva or nymph, optionally passing through pupa, and ending as adult. There are two main types of metamorphosis in insects, hemimetabolism and holometabolism. The immature stages of a species that metamorphoses are usually called larvae, and in these stages may grow quite quickly. But in the complex metamorphosis of many insect species, only the first stage is called a larva and sometimes even that bears a different name; the distinction depends on the nature of the metamorphosis. An example of metamorphosis where the name is changed is that of a tadpole. When a tadpole metamorphoses, it becomes amphibious, whereas a tadpole itself may not be considered amphibious.

In hemimetabolism, the development of larva often proceeds in repeated stages of growth and ecdysis (moulting), these stages are called instars. The juvenile forms closely resemble adults, but are smaller and, if the adult has wings, lack wings. This process is also known as “simple”, “gradual” or “incomplete” metamorphosis. The differences between juveniles in different instars are small, often just differences in body proportions and the number of segments.

In holometabolism, the larvae differ markedly from the adults. Insects which undergo holometabolism pass through a larval stage, then enter an inactive state called pupa, or chrysalis, and finally emerge as adults. Holometabolism is also known as “complete” and “complex” metamorphosis. Whilst inside the pupa, the insect will excrete digestive juices, to destroy much of the larva’s body, leaving a few cells intact. The remaining cells will begin the growth of the adult, using the nutrients from the broken down larva. This process of cell death is called histolysis, and cell regrowth histogenesis.

Whether the insect spends more time in its adult stage or in its juvenile form depends on the species. Notable examples are the mayfly, whose non-eating, adult stage lives for one day, and the cicada, whose juvenile stage live underground for 13 or 17 years. These species have incomplete metamorphosis. Typically, though not exclusively, species in which the adult form outlives the juvenile form undergo complex metamorphosis.

Many observations have indicated that programmed cell death plays a considerable role during physiological processes of multicellular organisms, particularly during embryogenesis and metamorphosis.

Hormonal control

Insect growth and metamorphosis are controlled by hormones synthesized by endocrine glands near the front of the body.

Some cells of an insect’s brain secrete a hormone that activates thoracic glands, which secrete a second hormone, usually Ecdysone (a steroid), that induces metamorphosis.

Moreover, the corpora allata produce the juvenile hormone, whose effect is to prevent the development of adult characteristics while allowing ecdysis. Therefore, the insect is subject to a series of molting, controlled by Ecdysone, until the production of juvenile hormone ceases and metamorphosis occurs.

Amphibian metamorphosis

Amphibian metamorphosis undergoes a single change from a larva, called a tadpole, to an adult. In the typical amphibian lifecycle, eggs are laid in water. The tadpole then emerges from the egg, and swims freely within the water. The tadpole has gills, a tail and a small circular mouth. The tadpole will grow, until it begins metamorphosis. Metamorphosis begins with the development of the hind legs, then the front legs. The lungs develop, and the tadpole begins to swim to the surface of the water to breathe. The intestine shortens to accommodate a carnivorous diet, and the eyes migrate rostrally and dorsally. In frogs the tail is absorbed by the body, for the last stage of metamorphosis.

There are many deviations from the typical amphibian lifecycle. Some species of salamander do not need to metamorphose to be sexually mature, and will only metamorphose under certain environmental stresses. Many species of frog from the tropics lay their eggs on land, where the tadpoles undergo metamorphosis within the egg. Once they hatch, they are immature copies of the adults, sometimes possessing a tail which is re-absorbed in a couple of days.

VIKING PERSIB

Rokok dan Konsumsi Daging yang Diawetkan

Penelitian yang dilakukan di Harvard School of Public Health, Boston, AS menunjukkan pria perokok beresiko lebih besar menderita pembengkakan paru (bronnkhitis parah) bila mereka terlalu banyak mengkonsumsi daging yang diawetkan.

Daging yang diawetkan seperti bacon, sosis, memiliki kandungan nitrit yang tinggi. Nitrit berguna untuk mencegah daging membusuk, menghambat pertumbuhan bakteri, dan menguatkan warna kemerahan pada daging.

Sama seperti kebiasaan merokok atau polusi udara, nitrit menciptakan molekul-molekul yang dikenal sebagai reaktif oksigen. Nitrit juga menghasilkan jenis nitrogen yang berkaitan dengan penyakit paru-paru kronis, seperti yang dikatakan Dr. Raphaelle Varraso dan rekannya. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Varraso dan rekannya menemukan bahwa mengkonsumsi daging yang diawetkan dapat memperburuk terkena resiko paru-paru kronis. Namun penyebab utamanya adalah rokok.

Yuk, berhenti merokok dari sekarang!

sumber : www.info-sehat.com

Ngompol Vs Kurang Cerdas

Setiap anak pasti pernah mengompol. Ada yang sering, ada yang jarang. Dalam studi yang ditemukan, anak yang sering ngompol saat tidur malam ternyata meraih nilai rendah dalam beebrapa pengukuran kinerja kognitif dibandingkan anak yang tidak ngompol. Fungsi kognitif mencakup kemampuan berfikir seperti kecerdasan, memori jangka pendek, dan rentang perhatian.

Dr. Chung Kwong Yeung, pimpinan bagian bedah dan uroligi anak di Chinese University, Hongkong serta rekan-rekannya mencatat perubahan fungsi kognitif pada 95 anak yang punya masalah ngompol (nocturnal enuresis). Peneliti juga menguji 46 anak sebaya tanpa kondisi ngompol. Hampir semua anak dievaluasi selama 2 tahun, menggunakan tes kognitif selama 2 tahun yang telah diakui secara umum.

Dr. Yeung mengatakan sejumlah studi menunjukkan anak yang ngompol memilii kualitas tidutr yang buruk. Tidur mereka cenderung terganggu dan tidak dapat tidur nyenyak. Anak-anak ini juga sulit bangun. Kehilangan tidur diketahui memiliki dampak negatif pada fungsi kognitif di siang hari. Namun selama ini belum ada studi yang membandingkan kemampuan kognitif pada anak yang ngompol dan tidak ngompol.

Dalam penelitian, anak-anak yang ngompol 5 kali seminggu tampak memiliki kecerdasan yang rendah dalam test kecerdasan, rentang perhatian, dan memori pendek. Anak yang memiliki masalah ngompol kronis juga memiliki daya ingat dan memori hjangka panjang yang lebih buruk, serta kecepatan belajar dan reaksi yang lebih lambat.

Namun ada harapan baru untuk para orangtua, setelah menjalani pelatihan kandung kemih dan perawatan selama 6 bulan dengan desmopressin, obat yang meningkatkan konsentrasi urin dan menurunkan fungsi urin, semua fungsi kognitif anak-anak yang diteliti meningkat secara signifikan.

sumber : www.info-sehat.com

« Entri lama